Thursday, March 04, 2010

Negara dengan 3 Presiden

Sepertinya gara-gara menonton liputan rapat paripurna DPR kemarin, jiwa politis saya jadi terbakar. Saat sedang duduk dengan tenang menikmati pemandangan yang berjalan dari dalam mobil pagi ini, mendadak terlintas pikiran. "Indonesia kan negaranya besar banget, apalagi bentuknya pulau-pulau terpisah. Pasti susah sekali yah mengaturnya... kasihan juga yang jadi presidennya. Kebetulan Indonesia kan sudah dibagi menjadi tiga waktu bagian, WIB, WITA, dan WIT. Kenapa presidennya tidak dibikin jadi 3 saja ya? Presiden Indonesia Barat, Presiden Indonesia Tengah, dan Presiden Indonesia Timur. Nah, kalau seperti itu kan jadi lebih teratur dan lebih memudahkan tugasnya untuk mengontrol negaranya sendiri."

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, percaya tidak percaya, bila keadaannya seperti itu, saya yakin 96% pasti suatu saat nanti Indonesia akan menjadi negara yang semakin kecil. Mengapa? Karena manusia itu egois pada dasarnya dan ada saja kemungkinan akan timbul peperangan saling memperebutkan negara-bagian, setelah itu akhirnya memisahkan diri sendiri, lalu memerdekakan diri deh. Sungguh cerita klasik yang pasti akan terus terjadi berulang di dunia ini.

iSay disclaimer : this article is purely my personal opinion without any further intention.

Damn, I Love Indonesia

Mereka yang lahir dan tinggal di Indonesia, mengakui dan diakui keberadaannya sebagai warga negara Indonesia. Namun dalam kesehariannya, kebanyakan orang memilih untuk mengikuti perkembangan zaman, begitu kata kebanyakan orang, terutama mengikuti tren dari budaya barat. Begitu banyak orang yang melupakan tentang keotentikan kebudayaan Indonesia dan memilih negara maju lainnya sebagai kiblatnya. Oleh karena itu, beberapa di antara mereka yang menyadari hal ini mulai gencar meneriakkan gaung untuk menumbuhkan kecintaan pada negeri sendiri.

Sampai bosan rasanya saya mendengar iklan "Damn I Love Indonesia", sebuah label yang dibuat oleh VJ Daniel untuk bisnisnya. Saya mendukung, tentu saja mendukung, hanya saja saat kata-kata itu dipropagandakan sedemikian seringnya hingga yang tersisa hanyalah kata-kata semata, tidak meresap lagi maknanya. Bahkan belakangan ini saya curiga, itu salah satu strategi marketing VJ Daniel nya sendiri.
Tapi kata-kata yang dipilihnya memang sungguh tepat, "Kalau ingin merasa bangga, tentu harus bangganya pada bangsa sendiri dong!" demikian kata-kata yang sering terlontar oleh penyiar radio sebagai pembukaan iklan tersebut. Manusia memang cenderung punya tingkat kebanggaan berlebih bila menyangkut dirinya sendiri. Saat mendengar ada nama Indonesia disebutkan dalam lirik lagu penyanyi terkenal di negri koboi sana, langsung ada lonjakan kebanggaan dalam harga diri umat Indonesia yang mendengarnya. "Wih! Indonesia disebut loh!" padahal itu lagu soal keprihatinan akan bencana gempa besar yang melanda beberapa negara belakangan ini, seperti haiti dan chile, tentu saja Indonesia masuk di dalamnya mengingat gempa superbesar di Yogyakarta beberapa bulan yang lalu. Saya sendiri pun begitu, saat mendengar ada kata "Indonesia" dalam skrip yang diucapkan oleh pemain CSI, rasanya ada lonjakan aneh dalam harga diri sebagai salah satu orang dengan nama Indonesia tertulis pada label kewarganegaraan di paspor. Yah, maklum saja, mengingat begitu jarangnya nama Indonesia disebut di mana-mana. Kebanyakan orang bahkan tidak tahu Indonesia itu negara di mana, tetapi mereka tahu bahwa Bali itu adalah negara. Ironis, tapi begitulah pengetahuan orang-orang di luar sana. Belakangan ini sepertinya Indonesia mulai naik daun juga di mata dunia, selain karena dinobatkan sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, tentu saja karena menjadi salah satu negara yang tidak terlalu terpuruk saat krisis ekonomi global tahun 2008 akhir, yah selain itu ternyata bencana alam dan gejolak politik di Indonesia cukup menarik simpati dunia untuk menyadari bahwa Bali adalah KOTA di NEGARA Indonesia.

Jadi, apakah Anda bangga menjadi bangsa Indonesia? Do you damn love Indonesia? Bila boleh jujur, I damn love Indonesia. Bagaimana tidak? Saat lapar dan hanya ada uang Rp.500,- di kantong, bisa untuk beli nestea (begitu di iklannya :p) atau paling tidak satu buah tahu gorengan bisa mengganjal perut. Coba dibayangkan bila kita tinggal di negara terdekat saja, Singapura yang kursnya lebih baik dari Indonesia. Lima ratus Rupiah sama dengan kira-kira 0.7 Sen Dollar Singapura, bisa dapet apa coba? Paling-paling air minum melimpah karena kebetulan air mentahnya bisa diminum di negeri singa duyung yang hobi memancurkan air dari mulutnya. Lalu, bagaimana saya tidak cinta dengan Indonesia kalau Indonesia mampu membuat saya untuk tetap terhibur karena hanya dengan lima lembar uang seribuan sudah dapat membeli satu keping dvd (bajakan) film, tolong jangan menyebutkan tentang mendownload (bajakan) film, saya bukan seorang geek (bahkan saya tidak tahu bahasa Indonesia untuk geek '_') yang menggemari nonton di komputer. Indonesia juga luar biasa membuka peluang untuk mencari nafkah, mengemis saja bisa dapat nafkah hidup (tapi sungguh tidak disarankan kalau tidak mau jadi pengemis), ada tumpukan sampah dijual bisa jadi bisnis besar, mau buka rumah makan di rumah tinggal pun bisa, dan lain sebagainya. Yang terbaik dari semuanya adalah makanan Indonesia yang paling enak, sungguh! Saya menggemari berbagai macam masakan dari berbagai macam negara dari barat, timur tengah sampai timur (hanya masakan afrika yang saya tidak tahu rasanya seperti apa karena sepertinya belum ada yang menjual daging gajah di sini), tetapi tetap, masakan Indonesia adalah masakan yang keanekaragamannya paling maknyus di lidah saya. Di samping itu keindahan alam Indonesia (walau mulai terkontaminasi) dan hutan hujan tropisnya yang luar biasa serta detail kesenian, keterampilan dan budaya klasik peninggalan sejarah yang luar biasa menakjubkan. SO HOW COULD I NOT DAMN LOVE INDONESIA?

Masalahnya walaupun saya cinta setengah mati pada Indonesia, saya tidak bangga menjadi salah satu dari jutaan ribu makhluk lainnya yang juga menamakan dirinya sebagai bangsa Indonesia. Polusi, kemacetan, kesemrawutan (kata ini lebih poll daripada ketidakteraturan), ludah blecetan di jalanan aspal, jalanan bolong-bolong, ketidakjelasan apakah Indonesia memiliki tempat pejalan kaki, sampah berserakan, kali dekil menjijikan dan segala fasilitas umum yang tidak tersedia maupun terawat (bila disebut fasilitas umum, jadi rancu siapa yang harus disalahkan apakah pengelola atau penggunanya), salah satu (banyak) yang tidak dapat saya banggakan, apanya coba yang mau dibanggain? Hal kedua yang luar biasa memalukan adalah mental dan sifat dasar manusia Indonesia yang kampungan. Maaf yah kalau agak kasar, hanya saja, ini benar-benar memalukan sekali. Baru-baru ini saya menonton liputan sidang paripurna DPR, semuanya sungguh KAMPUNGAN! tidak punya sopan santun, tidak terlihat sebagai orang yang berpendidikan yang layak menyandang status sebagai wakil rakyat. Bayangkan saja, ada seorang wakil (wanita) dari salah satu partai politik, hendak berbicara mengemukakan suaranya, baru saja mengucap salam "Assalamualaikum Bapak-Ibu..." langsung diserbu dengan seruan ala kampung Indonesia "uuuuuuu.... uuuuu....." hal ini terjadi berulang hingga 3-4 kali. Kejadian macam ini bahkan tidak pernah saya alami selama masa saya mengenyam pendidikan di Indonesia dari TK sampai Universitas. Sekali seruan "uuuu...." mungkin sering terjadi, tapi yah hanya satu kali 'tok untuk seseorang. Ini sungguh benar-benar menggelikan, mereka yang duduk di ruangan dan mengaku sebagai wakil rakyat sungguh perlu dipertanyakan apakah mereka pantas duduk di sana? Jauh lebih memalukan dari anak-anak yang mengenyam pendidikan di bangku sekolahan. Padahal mereka orang yang jauh lebih dewasa dan saya yakin beberapa di antaranya memiliki gelar sepanjang sepuluh sentimeter. Untuk apa bersekolah kalau dapat menjadi wakil rakyat yang bersifat seperti itu? Saya jauh lebih menghormati seorang RT-RW yang tahu cara memperlakukan orang lain dengan hormat dan pantas, dibandingkan orang-orang politikal yang tidak mengerti caranya bersikap. Mereka itu sadar tidak sih kalau mereka itu diliput oleh media, diberitakan oleh media, dibaca, dilihat dan didengar oleh masyarakat super luas dari anak-anak sampai kakek-nenek? Saya sungguh kasihan pada anak-anak yang tidak sengaja menontonnya, atau bahkan sengaja menontonnya.

"Nak, nak, ayo kamu nonton berita saja sana! Jangan menonton kartun melulu!" mungkin begitu kata orang tua si anak. Setelah menonton berita, mungkin orang tuanya akan menyesal telah menyarankan anaknya menonton berita, lebih baik menonton kartun yang menghibur daripada berita yang memberi pengrusakan mental.

Bukan melulu soal wakil rakyat dan orang-orang tersohor lainnya yang banyak ulah aneh-aneh. Sikap masyarakat dan para mahasiswa/i sendiri yang memalukan saat melakukan demonstrasi pun sungguh menggelikan. Bakar-bakar ban, bawa-bawa kerbau saat demo (kerbaunya di pilox lagi! ditempelin foto presiden lagi! OTAK SOPANNYA KEMANA SIH?). Sungguh sangat disayangkan mahasiswa/i yang hanya ikut-ikutan berdemo hanya untuk teriak-teriakan, pukul-pukulan, bakar-bakaran, lempar-lemparan, tetapi bahkan tidak dapat mengemukakan fokus opininya dengan baik. Demikian pula dengan masyarakat yang mau-maunya berpanas-panas-ria dan berlelah ria berjalan kaki (apalagi yang bawa anak! emangnya piknik keluarga ya?), belum lagi kalau sial digebukin, mereka ikut meramaikan aksi demo (dalam arti harafiah : me-RAMAI-kan) dengan hanya diganjar nasi kotak dan beberapa lembar uang sepuluh ribuan. Luar biasa, sungguh luar biasa.
Hal terakhir yang membuat saya malu menjadi bangsa Indonesia mungkin terletak pada masalah kebebasan berpendapat ataupun hukum. Kebebasan pendapat sendiri dapat diartikan dalam dua makna, yaitu seperti misalnya pada kasus Prita vs. RS Omni (bukan saya mendukung Prita loh, lama2 illfeel juga sama si Pritanya karena sepertinya kok malah memperpanjang masalah supaya tenar dan bisa ngisi kolam koin paman gober), atau Luna Maya (twitter) dan lainnya. Dalam hal ini, kegemaran menuntut, sedikit-sedikit mencemarkan nama baik, sedikit-sedikit tindakan tidak menyenangkan (plis dong ah, orang kentut juga bisa dituntut dong?). Kalau suatu hari nanti saya dituntut karena mengemukakan pendapat ini, saya tidak akan kaget mengingat kebebasan berpendapat sangat ditekan di negara yang katanya negara berasaskan keadilan, kemakmuran dan Pancasila ini. Makna sebaliknya kembali lagi pada kasus penyampaian pendapat yang tanpa kesopanan tadi, sehingga menjadi terlalu bebas. Masalah soal hukum, agak malas yah dibahas? Indonesia punya hukum suka-suka sepertinya, jadinya sulit untuk kemudian dibicarakan.

Sebenarnya agak tidak penting dan kurang kerjaan bagi saya untuk menulis ini, hanya sembari mengisi waktu saat terapi leher saja dan kebetulan sedang tidak mood untuk membaca buku.

Jadi, pertanyaan kembali saya lontarkan, do you proud to be an Indonesian? do you damn love Indonesia? or even both or neither both? speak out your mind, you have the right to do so.

iSay disclaimer : this article is purely my personal opinion without any further intention.

Wednesday, March 03, 2010

I screw up lately

  1. ada benjolan di leher sudah 3 hari, belon cek ke dokter.
  2. lagi empty trash imac kantor, tau2 folder yang nyimpen semua data kerjaan yang diletakkan di desktop, ILANG.
  3. so, saya langsung browsing dengan kalut dan download Stellar Phoenix Mac 4.0 + serial key nya dapet dari kaskus. Thanks God, they create kaskus.
  4. somehow, dia recover, tapi sepertinya gak semua filenya balik dan kebanyakan nama file sudah berubah jadi kode2.
  5. aroma rokok yang mengganggu dari warteg (yg posisinya kira2 3m dari tempatku duduk) di sebelah kantor, belakangan sering masuk melalui celah-celah jendela ruangan.
  6. terakhir, pikiran campur aduk. terima kasih.